Kamis, 06 Maret 2014

Sartika



Sartika termenung di beranda
Menatap pelataran barunya
Puluhan orang berkelebat
Tanpa kata halo terucap
            Dimanakah pelangimu dulu
            Ketika tiada sepi dalam keramaian
            Bertamunya sinar rembulan
            Dikegelapan malam
Adzan berkumandang
Bocah-bocah berlomba kesurau
Ia melangkah kepadasan
Menikmati suci tetes bening
Yang membelai kulitnya
            Dimanakah kirlapanmu dulu
            Begitu dekat raja dan rakyat
            Begitu dalam rakyat menghamba
            Dan betapa terpandangnya dirimu
Kerinduan mendalam Sartika
Tak pernah ada obatnya
Haruskah dia memutar waktu
Atau mencuci otaknya dengan fenomena kini
            Dalam sajak ia bercerita
            Adakah yang peduli
            Dia hidup berdampingan
            Bagai sebatang kara
Sartika merintih
Mengapa dirimu tak seperti dulu
Ragamu telah penuh kepalsuan
Dan keporandaan
            Dirimu semakin lemah
            Pujian-pujian semakin tersudut
            Bukti nihil kata
            Dua miliyar lebih menjunjung pujian
Sartika semakin miris
Apa yang bisa diperbuatnya
Air mata bersih tiada sisa
Berkesah tiada tara

Sisi Negeri



Di balik batas pencakar langit
Di arena gedung bertingkat
Mereka sedang menghamba harta dan kekuasaan
Sebagai kemuliaan sosial baru
            Menggembar-gemborkan gula suguhan
            Yang tak kunjung direalisasikan
            Semanis madu dalam ucap
            Sesedap gula dalam kecap
            Yang tersaji hanyalah tuba
Di balik batas pencakar langit
Di arena sawah hijau membentang
Mereka menjunjung etika
            Bocah berlomba ke surau
            Titik bening mengucur kepadasan
            Mengemasi baki yang diantar anaknya
            Memungut cangkul dari habitatnya
Di ufuk timur, biasnya masih enggan mengintip
Mereka kembali melangkah
Menuju padasan membelai kulit mereka
            Suara bedug bergema
            Surau penuh sesak
            Tiada tercipta sela
            Untuk mereka bercanda
Bias ufuk timur mulai merangkak naik
Mereka ternyata menanggalkan cangkul
Memungut sapu lidi dan sapu ijuk
Berjajar di tepi jalan
            Rasio mereka mengafdalkan etika
            Peradaban lampau masih tersisa
            Bukan adinterim, melainkan
            Beradhesi kukuh di sisi negeri ini
Dibalik metafor zaman yang membusuk
Peradaban adiluhung masih menyeruak
Meski di tepi hati mereka masygul
Perlahan merangkak menyambut pelangi

Kamis, 20 Februari 2014

TENTANG TEATER DAN DRAMA

SEJARAH DRAMA
Membicarakan drama tidak akan lengkap bila tidak mengenal sejarah drama itu sendiri. Sebagaimana bentuk karya lainnya, drama terlahir melalui proses kreativitas yang cukup panjang. Sejak berabad-abad, para penggiat drama terus melakukan eksplorasi hingga melahirkan berbagai jenis dan bentuk pementasan drama. Meskipun waktu dan tempat pertunjukan drama yang pertama kali dimulai tidak diketahui secara pasti, namun teori tentang asal mulanya bisa ditelusuri berdasarkan hal-hal berikut:
-       Drama berasal dari upacara agama primitif. Proses ritual yang semula hanya berisi puji-pujian serta gerak yang sederhana mulai ditambahi dengan unsur cerita hingga berkembang menjadi pertunjukkan drama.
-       Drama berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam prosesnya, seseorang akan mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan dengan penuh ekspresi penghayatan. Karena adanya respon dari para penontonnya, riwayat tersebut disampaikan sambil diperagakan dalam bentuk pertunjukkan drama.
-       Drama berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita baik tentang kisah perburuan, kepahlawanan, perang, maupun kisah-kisah lainnya. Dengan segala kreatifitasnya, manusia kemudian memanggungkan cerita itu ke atas pentas drama. http://teater-damar.blogspot.com/2012/08/mengenal-sejarah-drama_4401.html
SEJARAH TEATER
 
Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia
mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga
berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam
semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh
berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia
dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal
dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan
kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku
binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada
juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk
dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.
The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan
istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun demikian, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti
lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani
Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau
lakon atau karya sastra. http://alirans.blogspot.com/p/sejarah-seni-teater.html
PERBEDAAN TEATER DENGAN DRAMA
Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno "theatron" yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai 'dran' yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama. http://teaterlimawajah.blogspot.com/2012/06/perbedaan-teater-dengan-drama.html

Unsur-unsur Teater dan Drama


            Teater merupakan kombinasi dari semua unsur internal pemintasan dan unsur eksternal pemintasan yang dalam hal ini harus menjadi satu kesatuan untuk menghasilkan suatu pemintasan yang benar-benar baik:
  1. Unsur internal Teater
  1. Aktor
Aktor merupakan penunjang utama dalam teater. Dan aktor juga menghasilkan beberapa unsur diantaranya, unsur gerak dan suara.
  1. Naskah
Naskah atau bisa disebut lakon dalam teater juga merupakan penunjang yang melahirkan berbagai unsur-unsur yang ada yaitu, aktor, pentas, sutradara, dan kostum.
  1. Pentas
Pentas merupakan salah satu unsur yang menghadirkan keestetikan sebuah pertunjukan, karena pentas merupakan juga menghadirkan unsur penunjang yang di dalamnya ada property, tata lampu, dan alat-alat yang lain yang berkenaan dengan pentas.
  1. Sutradara
Sutradara merupakan unsur yang mengarahkan semua unsur dalam sebuah seni pertunjukan. Mengarahkan seorang aktor, membedah naskah, melahirkan ide-ide tentang pentas yang mau digunakan.
  1. Kostum
Kostum adalah unsur penunjang yang membuat seorang aktor bisa kelihatan membawan wataknya yang bagaimana.
Unsur internal tersebut menyangkut bagaimana didalam pemintasan tersebut, karena bisa dikatakan unsur internal merupakan hatinya teater, bila tidak ada unsur internal tidak akan tercipta suatu pemintasan. Tetapi perlu perlu diketahui pula unsur internal tidak akan bisa berjalan tanpa unsur eksternal.
  1. Unsur Eksternal Teater
Unsur eksternal yaitu mengurus segala yang berkenaan dengan di luar pemintasan. Yaitu staf produksi, karena staf produksilah yang melakukan segala perlengkapan yang menyangkut pemintasan.
  1. Staf Produksi
Staf produksi menyangkut manager tingkat produser atau pimpinan produksi sampai segala bagian dibwahnya (Tjokroatmojo dkk ). Adapun tugas masing-masing:
  1. Produser/ pimpinan produksi
a.       Mengurus produksi secara keseluruhan
b.      Menetapkan personal (petugas), angran biaya, program kerja fasilitas dan sebagainya.
  1. Derektor/ sutradara
a.       Pembawa naskah
b.      Koordinator pelaksanaan pementasan
c.       Menyiapkan aktor
  1. Stage manager
a.       Pemimpin panggung
b.      Membantu sutradara
  1. Desainer
Menyiapkan aspek-aspek visual:
a.       Setting (tempat, suasana)
b.      Property (perlengkapan pentas)
c.       Lighting (tata lampu)
d.      Costume (tata busana)
e.       Sound (pengeras suara)
  1. Crew
a.       Bagian pentas
b.      Bagian tata lampu
c.       Bagian perlengkapan
            d.      Bagian tata suara musik 
http://dafikurrahman-mashor.blogspot.com/2012/05/unsur-unsur-teater-dan-drama.html
HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN OLEH SEORANG PEMAIN SEBELUM PEMENTASAN DRAMA
- Olah vocal atau melatih intonasi
- Mencoba mendalami peran
- Membaca kembali naskah
- Melatih gerak tubuh

Senin, 13 Januari 2014

PELAJARAN



Tayangan di proyektor pagi itu
Seakan mencuatkan arti
Arti yang tampak namun tak tampak
Guratan indah ayat-ayat Tuhan
Kelap kelip proyektor
Seakan mengatakan sesuatu

Play Station



Semua terserah pengendali
Jika pengendali inginkan player untuk maju
Maka sesuai
Tak lagi terlihat di layar
Namun dihamparan rerumputan
Pepohonan, dan bangunan
Stick Play Station pun kembali dimainkan
Jalan sana jalan sini
Lompat sana lompat sini
Jatuh sana jatuh sini
Pengendali yang pintar akan kuasai permainan
Namun pengendali biasa pun sama
Player tak dapat berbuat apapun
Karena pengontrol ada di tangan pengendali
Dan player akan terus lakukan apa yang pengendali mau
Akankah terus berlanjut?????????

SAJAK A A



Embun usil menggelitik raga
Segar dalam jiwa
Hati riang wajah gembira
Bersenang ria tanpa duka
Pancoran mata penuh irama
Berpijar bahak disetiap ujung bibir
Menggambarkan suasana hati pagi ini
Pagi disaat mentari tersenyum
Kusapa ia sembari burung bernyanyi

Bangkai yang terdeteksi



Suasana kelas tampak tenang dan terkendali, semua masih dengan tenang duduk di bangku mereka masing – masing dan mendengarkan penjelasan guru, hingga terdengar microfon diketuk dari tengah pengeras suara yang tertempel tepat ditengah atas dari pandangan anak-anak.
Sekilas suara “ehem” keluar dari pengeras suara tersebut. “Henry” begitu ia sering di panggil mengenali suara itu. Suasana hatinya tak lagi setenang beberapa menit lalu. Tubuhnya. Tubuhnya gugup dan tegang begitu mendengar suara dari pengeras suara tersebut yang seakan memberi suatu pengumuman. Ia semakin tegang ketika pengumuman tersebut adalah pengumuan pemanggilan siswa. Dan ketegangannya memuncak ketika ternyata ialah orang yang disebut.
“Dimohon kepada ananda Henry suswanto untuk datang ke ruang BP pada saat istirahat pertama,Terima kasih.” Begitu kata terakhir si pemegang microfon tersebut. Nyalinya menciut,menciut sekecil mungkin,semungil mungkin. Tuhan! Rasanya ingin berteriak,namun semua tertahan,pikir Henry.
Apakah benar si pemegang microfon itu sudah tau akan kelakuannya tempo hari. Habislah aku. Pikir Henry canggung. “What should I do?”, lanjutnya. Ia benar-benar takut berhadapan dengan hal ini. Ia ingin membuang hal ini jauh-jauh dari pikirannya. Namun entah mengapa,semakin mendalam saja ingatanya akan ini.
*** ***
Oh Tuhan, selamatkan aku. Pikirnya lega. Pada saat istirahat pertama, ia penuhi panggilan itu. Dengan gemetar dan peluh di sana sini, ia berjalan menyusuri lorong sekolah yang ramai menuju ruang BP. Diketuknya dengan kikuk pintu bercat coklat itu,dan tanggapan dari dalampun muncul.
“Silahkan masuk!” Henry membuka pintu dan melangkah masuk bersama sekantong penuh keraguannya. Senyum simpul kecil dibibir guru ini, seakan berkata selamat datang. “Silahkan duduk!” utusnya. Henry duduk dengan berat hati. Ia menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar takut. Setelah semua pikiran-pikirannya seakan menjadi badai di otaknya. Guru tersebut pun buka mulut.”Henry Suswanto,kemana orang tuamu?” tanya sang guru.”...em..mmm...orang tua..saya..bekerja,bu.”jawab Henry dengan gugup. ”Apa pekerjaan orang tuamu?”lanjut guru itu.” A...ayah kuli bangunan,Ibu....seorang buruh pabrik bu.”tukas Henry. Apa sebenarnya mau guru ini?,pikir Henry. “Jadi,itu sebabnya mereka tidak mengambil raport mu hingga saat ini?”sambung guru itu. ” Iya bu,beliau berdua tidak bisa meninggalkan pekerjaan.Agar uang hasil tidak hilang.”jawab Henry dengan lirih dan mata yang berkaca-kaca.Guru itu mengerti. Lalu,raport itu diserahkan kepada Henry dan guru itu bangga padanya,karena nilai Henry cukup memuaskan. Henry pun keuar dengan wajah lega.
*** ***
Bel tanda pulang sekolahpun berbunyi,semua anak berhamburan keluar kelas untuk pulang. Lia, teman Henry menanyakan pertemuan tadi  antara Henry dengan guru itu. ” Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk saat ini”,tukas Henry. Lia merasa lega,namun ia takut kejadian tempo hari terungkap real and common,bagaimana nasib Henry nanti?. Karena tempo hari ada yang melihat kejadian itu. Kejadian yang buruk itu.”Oh Tuhan, lindungi Henry. Selamatkan ia, jika engkau ingin mengungkap perkara ini,ungkaplah dengan baik. Buatlah mereka mengerti akan penjelasan dari perkara ini.”doa si Lia.
Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari pun berlalu. Masalah Henry makin rumit saja dengan datangnya peneror misterius. Peneror ini tiap hari melayangkan surat kepada Henry, yang isinya adalah ancaman. Lia hanya bisa menghibur Henry. Andai Henry tau siapa peneror itu, pasti ia akan datanginya dan jelaskan semua. Namun,terjadikah??
*** ***
MAAFKAN AKU IBU !!
Hari itu,peneror itu akan mengungkap identitasnya. Henry penuhi undangan peneror itu. Begitu tau siapa dia, tenggorokan Henry serasa tercekat,dadanya terasa sesak, kepalanya tiba-tiba terasa tertimpa benda berat. Henry berusaha menjelaskan masalahnya, namun peneror itu tak mau tahu. TINDAKAN = TANGGUNG JAWAB ! tegas peneror. Henry hanya bisa diam. Hari itu juga,semua terbongkar. Sang korban hanya dapat membendung tangis. Dan Henry pun menyesal. Timbal dari tindakannya itu, ia harus kembalikan itu sesuai awalnya.